The Admiral

 12 PM - Pulau Akitsushima

Cuaca hari ini panas terik. Sepertinya matahari menyinari berbagai sudut pulau ini. Semilir angin laut meniup rerumputan lebat dibelakang rumah. Dari bukit dapat terlihat satu-satunya dermaga di pulau ini : Dermaga Akitsushima. Dermaga ini terkenal sebagai salah satu titik strategis dalam industri perikanan wilayah Okinawa, oleh karena itu pulau ini "cukup" terkenal. Dari ufuk lautan terlihat sebuah kapal yang mendekat. Tampaknya itu kapal penumpang yang hanya datang seminggu sekali kesini, kapal yang akan kunaiki nanti. Di tiketku tertulis jadwal keberangkatan jam 2 siang, berarti masih ada sisa 2 jam. Saatnya untuk berpamitan kepada tetangga dan teman-temanku.

Rumah yang pertama kudatangin tentunya adalah rumah pak tua Ryotarou. Mungkin bila dilihat dari postur tubuh dia adalah seorang yang renta. Tentu, dengan tinggi kurang lebih 150 cm dan umur lebih dari 70 tahun semua orang akan berpikir seperti itu. Namun berkat keterampilan yang ia dapat selama hidupnya, Ia nampak mampu hidup sendirian hingga saat ini. Sesampainya didepan rumahnya, dia terlihat sedang memotong kayu bakar yang ia pungut dari hutan dibelakang rumahnya. 

"Oi, Pak tua!" teriakku dari jauh. 

Sembari berbalik dengan perlahan, ia membalas berteriak "Oh, rupanya kau. Kemarilah!". 

Kuberjalan pelan-pelan kearahnya. Sambil berjalan aku mengintip kedalam rumah kecilnya itu. Yah, saking kecilnya, mungkin lebih cocok disebut gubuk daripada rumah. Isinya pun tidak terlalu banyak, hanya terlihat sebuah futon dan meja kecil disampingnya dengan 2 lemari yang berisi banyak barang antik. Bila kuingat-ingat, pak tua Ryota adalah veteran perang yang pernah bertempur di Tiongkok dan Korea.

"Tumben sekali kau mampir kesini. Biasanya kita bertemu di hutan. Apa jangan-jangan...."

"Yap. Hari ini aku akan berangkat ke Tokyo. Aku kesini untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu."

"Setelah bertahun-tahun, akhirnya kau meninggalkan pulau kecil ini. Aku akan merindukanmu, Asagi."

"Akupun akan merindukanmu, pak tua. Setelah apa yang kau ajarkan kepadaku selama bertahun-tahun. Aku masih ingat kau meninggalkanku dihutan di malam hari selama 2 jam. semua itu hanya untuk mengajariku cara berburu kumbang."

Tawa pun pecah diantara kami berdua.

"Asagi. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Anak yang tidak pernah kumiliki....Kalau begitu pergilah. Raihlah impianmu, dan jangan berani-berani untuk kembali kesini sebelum impianmu itu kau capai!"

"Siap, Kapten!"


Komentar

Postingan Populer